Minggu, 12 Desember 2010

Audit Bengkel Manusia


Bengkel ini harus kerja ekstra. Sebelum akhirnya mesin-mesin pada karatan dan tidak bisa kembali ke fungsi normal. Mulai dari mana ya. Di sini kedapatan manusia bingung. Bingung karena sepertinya berdasarkan hasil pemantauan, sungguh di luar perkiraan yang harus dikerjakan. Manusia bingung, dan muka kusut beberapa jam.

Saatnya bekerja, ambil yang dekat dulu. Rapihkan buku bacaan. Sortir hasil download, delete yang tidak penting. Refresh. Menata sisi internal. Hemm, sepertinya senang nian dengan berhura-hura. Imbas dari lelah dan hanya sekedar meluangkan waktu. Kamu sudah terlalu terjauh! Ini sangat menjadi temuan. Ini tidak wajar. Mau teruskan atau paksa mesin terus berputar sambil menekan tombol recyle and refresh.

Apa ini!!! kotor sekali. Pastikan tetap menutup bagian depan, sesuai yang diharuskan. Saat menghadap, tidak ada alasan bagimu untuk menggunakan atribut yang lain. Karena di setiap langkah, kemanapun kamu melangkah. Kamu harus seperti itu. Lalu apa bedanya kamu menutupinya kembali dengan yang putih itu. Berarti langkahmu bermasalah. Tampilmu berarto belum yang seharusnya. (huuuft... temuan lagi nih).

Ini-ini dan itu, bukankah kita telah sepakat untuk menjaga dari yang meragukan. Kenapa masih ada disini. Buang!
Tapi... Manusia siap-siap meluncurkan segala alasan dan berharap bisa diterima dan dengan lantang berkata disela permohonan, usahlah menggunakan kacamata kuda!.

Kuda... kuda itu memakai kacamatanya dengan tetap, pandangannya tidak lurus kedepan. Tapi, ia melihat kesamping, yaitu ke kanan dan ke kiri. Ia harus menengok dan memaksimalkan kornea-nya jika ingin tetap lurus jitu melihat yang di depannya. Masih hendak berargumen, dengan kacamatanya. Sedang yang berlaku apakah seperti laku kuda sesuai perkiraanmu!

Rapuh kali kendali ini, apa ini. Hemm... ini yang selalu jujur, dan kalah dengan kreatif otak. Ialah hati. Kepada ini, haruslah lembut. Kau kubersihkan dulu ya. Jika sakit, menjeritpun tak apa. Jika ingin menangis, menangislah. Jika kau rasa tak mampu, berujarlah. Jika merasa tentram, diam-mu itu sungguh menyejukkan. Karena kau jujur atas segala rasa dan laku. Tersenyum damai.

Ready for cleaning!!!

By. Nok

Jumat, 10 Desember 2010

Ruang Embun

Aku ...
Aku menerawang jauh
Di sela dingin embun
Dalam sebuah ruang yang melaju pesat
Aku tengah bersenang-senang
Jemari ringan bersambut


Engkau ada di detik-detik yang tak ku sangka
Membuatku tersenyum, sendiri
Membaca per kata


Juragan
Jenderal - Komandan
Elang 1 - Garuda 1
Romeo - Juliet
Pa'e - Bu'e
Akhi - Ukhti


Banyak sebutan ternyata
Kelak akan ada sebutan baru
Tapi aku belum ingin beranjak
Menuju sisi kreatif


Aku menyukai manusia yang menyadari
bahwa ia adalah manusia
Bukan perawan suci
Seperti malaikat sana, tanpa cela
Bukan pula ratu iblis
Seperti dalam kartun, dengan tawa menyeringai


Namun,
Sebentuk yang tercipta atas Adam dan Hawa
Mulia


By. Nok

Selasa, 07 Desember 2010

Sepekan Setelah Itu

Tidak harus ada kabar setiap waktunya. sekalinya bersua, selalu ada yang beda. Selalu, ah tidak juga. Lebih tepatnya seringkali. Seperti hari itu, ada sebuah penyangga karena pijakan tak mampu menumpu setiap waktu dan jika ada sebuah cermin dalam langkahku, mimiku seperti berujar "is that ok with u?". Entahlah perasaan itu muncul sendirinya.


Ternyata jejak kita tercatat di episode yang menuturkan jelajah yang, aku berani bertaruh. It's our life. Your life. My life.

Selasa, 23 November 2010

Lukisan Pasir

Ternyata bukan hanya aku
Di tengah kita ada dia
Dia yang telah menjadi sejarah

Bening mutira tak tertahan
Meluruh seketika
Merayap lambat
Hangat

Siapakah engkau yang kukenal
Seperti apakah sebelum akhirnya
Kata kita itu tertuju antara aku dan kamu

Menerawang pasti berharap menjadi pasti
Lukisan pasir berhambur bersama angin
Akankah doa terijabah
Pasti

Rentang waktu yang pasti
Akan menjadi nyata
Menyusur naluri
Ukir kembali sejarah
Eposide yang berkelana

Dan kutemukan engkau
Dan kuketahui ternyata ada dia
Dunia seperti hitam
Menghujamiku
Aku pernah linglung

By: Nok
*pekan setelah ied fitri 1431 H

Minggu, 14 November 2010

Bermalam Malam


Menjelmalah engkau dalam malamku kali ini saja
Aku telah lama menunggu
Sekalinya kau datang
Hanya sebentar

Andai waktumu bisa ku pinjam
Satu malam saja, tidak lebih
Hanya sebentar

Menepilah engkau pada peraduan
Berjanjilah kita akan memandang mentari pagi
Bersama, tidak ada yang lain

Namun itu jika dan hanya jika kau mau
Jika hari itu tersisa untuk kita
Tersisa beberapa rebah tulus
Rebah yang cukup menguatkan
Cukup hangat terasa
Hangatkan hati yang lama lelah menunggu

Wahai malamku...
Hari itu, aku hanya mendengar kabarmu
Kemana saja kau ini
Membuatku khawatir saja

Wahai malamku...
Usah surut dalam langkahmu
Aku tetap setia
Seperti biasa dengan iringan sebait lagu
Syair yang semakin hilang diterpa hembusan angin

Dan kau hanya menimpali
“lagu apa yang kau dendangkan, sepertinya tidak seperti itu liriknya”
Dan
Iya, aku hanya bergumam
Menikmati putarmu wahai malam

Kali itu juga kau tidak hadir
Dan aku telah berpacu pada syair yang panjang
Kau tetap tak datang
Dimanakah engkau,,,

Engkau berangsur pergi dan
Senja semakin dekat
Mentari tampak siap-siap berbagi
Namun atas bersama dalam hari
Dan itu hanya sebentar
Sebelum akhirnya kau pergi
Lagi
Damainya hati ini
Ronanya begitu merah
Aku menyukai saat kita bersama

Wahai malamku
Hendak pergi kemana lagi...

By: Nok

Sabtu, 13 November 2010

Sepintas Nalar

Pernah tidak berpikir kita memiliki pribadi yang berbeda dan berlaku se-merdeka dari yang kita duga? Selepas pulang kerja, aku sering mengamati berbagai perilaku sekitar. Namun ini lebih sering kulihat di malam hari. Dan kebeneran tadi aku pulang hampir di penghujung malam. Hemm.. mudi-muda yang bersuka-suka, segerombol anak manusia yang tampak aneh dengan kostumnya (maaf disebut aneh, secara angin dingin sekali, tapi masih bisa pakai yang minim abis). Dan itulah realita. Kehidupan selalu menawarkan kepada yang hidup agar hidupnya lebih hidup.


Wajar setelah berpikir lama, dengan posisi duduk ataupun hilir mudik kesana-kemari, suplai otak kita menembus syaraf di alam yang secara sadar sana dan berdemo, kami butuh amunisi. Baiklah, mari kita berdamai. Perdamaian kali ini, disambung dengan "pecel lele" murah meriah dinikmati dengan semilir angin yang sejuk. Kursi tampak kosong, kupiliih di pojok yang posisinya bisa melihat kendaraan yang saling berlomba.


Kumpulan materi terpenuhi, saatnya melangkah ke peraduan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11. 35 PM. Beberapa ruang petak telah terisi penghuninya, sepertinya memang telah nyaman dalam terjaga. Salam kusampaikan, dan tenang langsung merayap. Tertidur tak sadar tapi lalu terkesiap. Ah, ternyata pulasku hanya 10 menit.


Aku kemudian berselancar pada dunia maya dan berjelajah, tapi aku tengah rindu untuk tuliskan buah pikiran baik itu selintas atau memang hanya berucap dan diterjemahkan kedalam kata per kata seperti ini, ya seperti ini.

Senin, 25 Oktober 2010

Rumah Bersama

Ada tempat yang dinanti ketika penat ini sedang diujung muara. Seorang yang begitu lelah dan ingin segera sampai pada peraduan. Yang membuatnya nyaman dan sekeliling di ruangan hanya miliknya, sekalipun tertambak pada ukuran 2,5 x 3 m. Hemm... angin sore yang sejuk. Sejuk menelusuri ruang bisu ini.

Ketika beranjak keluar, dunia tidak jauh berbeda. Hanya bercampur aroma. Tempat bersama yang selalu ada cerita. Tempat bersama yang siap menyambut yang baru datang dan jenuh selepas bekerja. Yang menanti meronanya penghuni setelah bertemu yang terkasih. Yang hanya sebagai tempat pengharibaan dan memupuk kebaikan.

Inilah tempat bersama, yang akan terus dijaga.
Inilah tempat bersama, bukan untuk bermaksiat.
Inilah tempat bersama, yang akan terlimpah berkah bagi yang menjaga.
Inilah tempat bersama, bukan untuk pesta yang tidak-tidak.

Jangan rusak tempat ini, jauhkan sumber pikiran busuk sisi manusia dengan segala akal dan peluang bejat. Ini tempat kita, tempat dimana kita bernaung. Biarlah  sisi egoisme sejenak untuk disingkir karena manusia secara sosial bertanggung jawab satu sama lain.

Beriring kita bersaudara, bergandeng kita karena senasib. Jadi, peliharalah jiwa, hati dan pikiran kita. Jangan tergoda dan lebih takut kepada manusia. Karena kacamata Tuhan melebihi tajam dari yang kita duga. Secara sadar, kita tentu tidak ingin jadi budak nafsu Adam dan Hawa.

Kita bersama, harus menjaga tempat ini.
Jika tidak sepakat, hidup saja di hutan dan berlaku sekehendaknya.

By. Nok
Okt 25th, 2010

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ritme Berkawan


Malam itu, seperti biasa kau menungguku. Menunggu sambil ditemani butiran hujan yang kian tak ujung henti. Sementara aku tengah berpacu dengan waktu dan merampungkan ujianku. Ah, masih hujan... Hujan, apakah engkau masih ingin kami melewati sisa senja menyambut malam?


Sebenarnya seperti biasa kita bertukar cerita, canda yang tiada habis akan topik untuk dibahas. Dalam hati, bagaimana ini bisa mengalir sedemikan cair. Aksen kita yang berbeda, terdengar lucu untuk diucap. Dan mamang sekoteng, mamang baso tahu, mamang baso malang, mereka sepertinya asik kali mendengar kita berhaha-hihi. Tak lama, ternyata mereka pun menimpali celotehan kami. Rintik hujan berangsur pergi. Saatnya kita pergi dari tempat ini dan beradu angin. Tuhan, ini indah.

Selayang padang, kuputar sekeliling berlindung di belakang sebidang bahu yang bidang. Hemm, rasanya memang berbeda. Kau bukan dia. Kau adalah kau. Dia tetap dia. Batasan aku bersama kau dan dia, terjaga. 

Pikirku terhenti, pada sosok yang kau puja. Benarkah ia? Aku tersenyum dan bahagia, selamat reflek kutanggapi. Akhirnya kau temukan ia. Itu artinya selamat tinggal kawan. Jatah berbagi waktu dan kebersamaan denganmu. Secara sadar ini harus diakhiri. Aku mundur perlahan, dengan caraku, dengan lakuku, dengan kekhas-an yang kumiliki.

Bisa jadi ini akan terasa asing, ketika rentang waktu disitu hanya aku. Di saat hari luang, kursi-kursi itu seperti berbicara. Kemana penyalamku, lama tak terlihat? Dia tidak akan ada, lagi. Salami saja aku dan aku akan salamimu. Risauku tak beralas. Aku diam dan menelan.

Kutatap langit dan berujar lirih...

Kau telah bahagia, dan aku bahagia.

Rabu, 20 Oktober 2010

Teruntuk Engkau

Teruntuk engkau...
Seulas senyum, saat menyambutmu
Teruntuk engkau...
Takzim, salam menyentuh qalbu
Teruntuk engkau...
Langkah ringan beriring sambil berbagi cerita

Dan betapa sejuk angin menyusup pori-pori
Ketika sandar, kokoh semayamkan pelupuh rindu

Teruntuk engkau...
Roda itu telah berlalu pergi
Teruntuk engkau..
Tapaki lintasan terhampar ribuan kilo
Teruntuk engkau...
Sujudku, berharap buah doa kebaikkanmu
Teruntuk engkau...
Berguguran semanggi tak bertepi

Dan kita tetap dalam orbit masing-masing
Ketika luruh, meretas perahu berpecah haluan

Tuhanku...dendangku telah tak berirama
Ritmeku abstrak mengoyak puing-puing sisa permata

...Teruntuk engkau...
salam terindah, melebihi sangat
terukir rapih

...ketika tertumpu isolasi naluri... 



Berbagai "rasa" mengenalmu
By. Nok
*Posting from FB at March 7,2010

Senin, 18 Oktober 2010

Diantara Dua Hari

Masih di Bulan Oktober,
rasaku mengharu biru. 

Aku ada diantara dua malam bersamamu
Canda sekitar dan hangatnya sapa
Kita lalui bersama
Tercipta mengikuti alur yang ada

Beriring lagu yang semakin sayup terdengar
Sedang belenggu lembut selimuti
Tersandarlah sudah pada sebidang kokoh
Nyaman

Waktu kian bergulir
Salam dan kecup kasih 
Menjalar simpan segudang rindu
Saatnya kembali
Meniti harap dan impian

Semoga jadi kenyataan

By: nok
Okt 18th, 2010
West Java - Indonesia

...selepas aku denganmu...

Minggu, 10 Oktober 2010

Jumpa Pertama

Selamat Siang....

Akhirnya, jadi juga buat corat-coret dunia maya. Lapak baru nieh... mari kita berkenalan dan bersahabat baik. Sarana dimana bisa mencurahkan segala ide, sekelumit rasa yang masanya.

Yang baik-baik yaa...

Hari ini tanggal cantik... 10-10-2010

Have a nice weekend