Ada tempat yang dinanti ketika penat ini sedang diujung muara. Seorang yang begitu lelah dan ingin segera sampai pada peraduan. Yang membuatnya nyaman dan sekeliling di ruangan hanya miliknya, sekalipun tertambak pada ukuran 2,5 x 3 m. Hemm... angin sore yang sejuk. Sejuk menelusuri ruang bisu ini.
Ketika beranjak keluar, dunia tidak jauh berbeda. Hanya bercampur aroma. Tempat bersama yang selalu ada cerita. Tempat bersama yang siap menyambut yang baru datang dan jenuh selepas bekerja. Yang menanti meronanya penghuni setelah bertemu yang terkasih. Yang hanya sebagai tempat pengharibaan dan memupuk kebaikan.
Inilah tempat bersama, yang akan terus dijaga.
Inilah tempat bersama, bukan untuk bermaksiat.
Inilah tempat bersama, yang akan terlimpah berkah bagi yang menjaga.
Inilah tempat bersama, bukan untuk pesta yang tidak-tidak.
Jangan rusak tempat ini, jauhkan sumber pikiran busuk sisi manusia dengan segala akal dan peluang bejat. Ini tempat kita, tempat dimana kita bernaung. Biarlah sisi egoisme sejenak untuk disingkir karena manusia secara sosial bertanggung jawab satu sama lain.
Beriring kita bersaudara, bergandeng kita karena senasib. Jadi, peliharalah jiwa, hati dan pikiran kita. Jangan tergoda dan lebih takut kepada manusia. Karena kacamata Tuhan melebihi tajam dari yang kita duga. Secara sadar, kita tentu tidak ingin jadi budak nafsu Adam dan Hawa.
Kita bersama, harus menjaga tempat ini.
Jika tidak sepakat, hidup saja di hutan dan berlaku sekehendaknya.
By. Nok
Okt 25th, 2010
Senin, 25 Oktober 2010
Sabtu, 23 Oktober 2010
Ritme Berkawan
Malam itu, seperti biasa kau menungguku. Menunggu sambil ditemani butiran hujan yang kian tak ujung henti. Sementara aku tengah berpacu dengan waktu dan merampungkan ujianku. Ah, masih hujan... Hujan, apakah engkau masih ingin kami melewati sisa senja menyambut malam?
Sebenarnya seperti biasa kita bertukar cerita, canda yang tiada habis akan topik untuk dibahas. Dalam hati, bagaimana ini bisa mengalir sedemikan cair. Aksen kita yang berbeda, terdengar lucu untuk diucap. Dan mamang sekoteng, mamang baso tahu, mamang baso malang, mereka sepertinya asik kali mendengar kita berhaha-hihi. Tak lama, ternyata mereka pun menimpali celotehan kami. Rintik hujan berangsur pergi. Saatnya kita pergi dari tempat ini dan beradu angin. Tuhan, ini indah.
Selayang padang, kuputar sekeliling berlindung di belakang sebidang bahu yang bidang. Hemm, rasanya memang berbeda. Kau bukan dia. Kau adalah kau. Dia tetap dia. Batasan aku bersama kau dan dia, terjaga.
Pikirku terhenti, pada sosok yang kau puja. Benarkah ia? Aku tersenyum dan bahagia, selamat reflek kutanggapi. Akhirnya kau temukan ia. Itu artinya selamat tinggal kawan. Jatah berbagi waktu dan kebersamaan denganmu. Secara sadar ini harus diakhiri. Aku mundur perlahan, dengan caraku, dengan lakuku, dengan kekhas-an yang kumiliki.
Bisa jadi ini akan terasa asing, ketika rentang waktu disitu hanya aku. Di saat hari luang, kursi-kursi itu seperti berbicara. Kemana penyalamku, lama tak terlihat? Dia tidak akan ada, lagi. Salami saja aku dan aku akan salamimu. Risauku tak beralas. Aku diam dan menelan.
Kutatap langit dan berujar lirih...
Kau telah bahagia, dan aku bahagia.
Rabu, 20 Oktober 2010
Teruntuk Engkau
Teruntuk engkau...
Seulas senyum, saat menyambutmu
Teruntuk engkau...
Takzim, salam menyentuh qalbu
Teruntuk engkau...
Langkah ringan beriring sambil berbagi cerita
Dan betapa sejuk angin menyusup pori-pori
Ketika sandar, kokoh semayamkan pelupuh rindu
Teruntuk engkau...
Roda itu telah berlalu pergi
Teruntuk engkau..
Tapaki lintasan terhampar ribuan kilo
Teruntuk engkau...
Sujudku, berharap buah doa kebaikkanmu
Teruntuk engkau...
Berguguran semanggi tak bertepi
Dan kita tetap dalam orbit masing-masing
Ketika luruh, meretas perahu berpecah haluan
Tuhanku...dendangku telah tak berirama
Ritmeku abstrak mengoyak puing-puing sisa permata
...Teruntuk engkau...
salam terindah, melebihi sangat
terukir rapih
...ketika tertumpu isolasi naluri...
Berbagai "rasa" mengenalmu
By. Nok
*Posting from FB at March 7,2010
Seulas senyum, saat menyambutmu
Teruntuk engkau...
Takzim, salam menyentuh qalbu
Teruntuk engkau...
Langkah ringan beriring sambil berbagi cerita
Dan betapa sejuk angin menyusup pori-pori
Ketika sandar, kokoh semayamkan pelupuh rindu
Teruntuk engkau...
Roda itu telah berlalu pergi
Teruntuk engkau..
Tapaki lintasan terhampar ribuan kilo
Teruntuk engkau...
Sujudku, berharap buah doa kebaikkanmu
Teruntuk engkau...
Berguguran semanggi tak bertepi
Dan kita tetap dalam orbit masing-masing
Ketika luruh, meretas perahu berpecah haluan
Tuhanku...dendangku telah tak berirama
Ritmeku abstrak mengoyak puing-puing sisa permata
...Teruntuk engkau...
salam terindah, melebihi sangat
terukir rapih
...ketika tertumpu isolasi naluri...
Berbagai "rasa" mengenalmu
By. Nok
*Posting from FB at March 7,2010
Senin, 18 Oktober 2010
Diantara Dua Hari
Masih di Bulan Oktober,
rasaku mengharu biru.
Aku ada diantara dua malam bersamamu
Canda sekitar dan hangatnya sapa
Kita lalui bersama
Tercipta mengikuti alur yang ada
Beriring lagu yang semakin sayup terdengar
Sedang belenggu lembut selimuti
Tersandarlah sudah pada sebidang kokoh
Nyaman
Waktu kian bergulir
Salam dan kecup kasih
Menjalar simpan segudang rindu
Saatnya kembali
Meniti harap dan impian
Semoga jadi kenyataan
By: nok
Okt 18th, 2010
West Java - Indonesia
...selepas aku denganmu...
Minggu, 10 Oktober 2010
Jumpa Pertama
Selamat Siang....
Akhirnya, jadi juga buat corat-coret dunia maya. Lapak baru nieh... mari kita berkenalan dan bersahabat baik. Sarana dimana bisa mencurahkan segala ide, sekelumit rasa yang masanya.
Yang baik-baik yaa...
Hari ini tanggal cantik... 10-10-2010
Have a nice weekend
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)