Jika penerimaan itu adalah sebuah kebodohan. Bisa jadi aku adalah salah satu orang bodoh yang permanen. Di saat lain menuntut sedemikian melunjaknya, aku justru harus berusaha sendiri mencari.
Karena ini telah terbiasa, sehingga kakiku tak boleh pincang. Kepincangan ini, kadang terjadi dan langsung membuncah. Jika ingat itu, setan apa yang tengah menggelayutiku.
Tuhan, surga ataupun neraka... aku takut akan keduanya. Keberadaannya yang sudah pasti adanya.
Hanya jika ku boleh meminta, berilah aku berjuta-juta kesabaran. Karena jika ku hilang setengahnyapun, aku masih memiliki sabar itu.
Sentuhlah hatinya. Tapi apakah hatinya merasakan sentilan indahMu.
Hak dan kewajiban. Jika kau lalai dalam kewajibanmu, berarti kau dzalim atasku. Dzalim dengan penghidupanku.
Jumat, 14 Juni 2013
Selasa, 05 Maret 2013
Bernafas Dibantara Langit
Alangkah menyenangkannya, ketika kita bisa berbaur, bertutur sekehendak yang diinginkan. Meluangkan waktu untuk bisa bermain-main dengan ucapan. Melepaskan apa yang menyesak di dada. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang tersimpan, sekalipun itu sambil berlalu dan pergi entah kapan tanpa diketahui.
Hanya saja semua terbantahkan, terlebih jika teringat. Jagalah apa-apa yang menjadi segala adamu. Semua ada pertanggungjawabannya. Takut!
Takut, rasa itulah yang lebih dahulu menyerbu dengan setajam kilat dibarengi hangatnya rona pipi lalu menelurkan butiran yang meneduhkan.
Surga ataupun neraka. Dua tempat yang sudah pasti dan kutakuti keberadaannya.
Langganan:
Komentar (Atom)