Membenamkan diri dalam ruang itu
Sorot lampu remang menyusup
Kelam, semua tampak hitam
Lelahku sangat
Sajak kematian,
Bergulir bagi para jelajah dalam orbit puncak kenikmatan
Sisi autis manusia seperti bidadari di kayangan
Bermandi cahaya menelikung diri
Ria bersuka-suka
Sajak kematian,
Batin itu telah mati dan hidup kembali
Nyata itu pahit
Laksana racun ditengguk sengaja
Merayap nadi menusuk setiap aliran darah
Sajak kematian,
Hatiku telah mati dan hidup kembali
Layar datar membuktikan
Ku telah jatuh untuk kesekian kali
Ku telah bangun berkali-kali
Namun rasanya masih tetap sama
Seperti dihujam batu beribu-ribu kelipatannya
Sajak kematian,
Ternyata kau memang masih menginginkannya
Malaikat pencabut nyawa seperti ragu menyabut nyawamu
Seperti Izrail yang tak rela dan getir hatinya
Mencabut nyawa Sang kekasih ilahi Rabbi
Tetap sakit
Sajak kematian,
Apa kau masih tak ikhlas?
Apa rela itu hanya sebatas ucap?
Apa seperti caraku, membungkus semu itu dalam bait cinta pecinta
Sajak kematian,
ku persilahkan
Silahkan!!!
Sajak kematian,
Kalian tidak akan tenang
Seperti kabut yang melumat setiap hembusan nafas
Sajak kematian,
ada diantara apapun
hadir dari sisi manapun
Teruntuk yang telah begitu mematikan
Sajak kematian tercipta
Pada sebilah layar
Tatap tajamku
Membidik segala gemulai
Sajak kematian,
Matilah engkau dalam perbait sajak.
By.Nok
Selasa, 19 April 2011
Selasa, 12 April 2011
Titik Antara
Telah ku bagi malam dan siang
Tanpa perantara
Jika sang surya menjadi pijak
Fajar dan senja sering kali terlewat
Berbatas ruang bawah
Bolehkah kali ini, gerai sejenak lelah
Sebagian besar waktu adalah milik kalian.
Sisa dari itu, baru kudapati waktu ku.
Apakah mengeluh, layak diterima?!
Manusia telah terprogram pada siklus tak berkesudahan.
Dan menjadi tua dalam langkahnya.
Bungkam inginmu dengan busa tanpa nyata.
Ranjau bersambung, jerat pekat.
Mengapa hitung bom waktu, tercatat mundur.
Tuhan, tetapkan langkah makhlukMu dan
izinkan kami mengerti segala kehendakmu.
By. Nok
Tanpa perantara
Jika sang surya menjadi pijak
Fajar dan senja sering kali terlewat
Berbatas ruang bawah
Bolehkah kali ini, gerai sejenak lelah
Sebagian besar waktu adalah milik kalian.
Sisa dari itu, baru kudapati waktu ku.
Apakah mengeluh, layak diterima?!
Manusia telah terprogram pada siklus tak berkesudahan.
Dan menjadi tua dalam langkahnya.
Bungkam inginmu dengan busa tanpa nyata.
Ranjau bersambung, jerat pekat.
Mengapa hitung bom waktu, tercatat mundur.
Tuhan, tetapkan langkah makhlukMu dan
izinkan kami mengerti segala kehendakmu.
By. Nok
Telapak Tak Berucap
Siapa dia, dia bukan siapa-siapa saya
Kamu siapa, ada keinginan menjadi miliknya
Sebatas ingin tapi menggebu
Begitu kan?!
Kenapa kamu, kamu tidak kenapa-kenapa
Saya dimana, ruang abstrak tanpa esensi percaya
Hendak kemana, apa pedulimu?!
Iya, disana.
Lurus menunjuk, dia, bukan?!
Ia bukan milik saya
Saya pun bukan miliknya
Hanya prosesi ini yang menjadikan seperti dia adalah apa-apa saya.
Jadi dia siapa?!
Dia tetap bukan siapa-siapa.
Kenapa dipertahankan.
Terjawab, alur Tuhan yang sampai saat ini belum dimengerti.
Hatimu terlalu keras, mungkin!!!
Apa karena ada dia?
Dia mengingkannya,
Saling menginginkan.
Dipersilahkan?
Tidak!!!
Mengapa?
Bicaralah dengan telapak tak berucap,
Tak akan ada jawab.
Ini akan lebih menyiksa.
Inginmu?
Keinginan dari sisi jiwa yang hitam
Melumat berjuta pesona
Mengeruknya dan membunuhnya dalam lubang yang dalam.
Kejam..
Iya.
Episode merekapun kejam.
Berbalas.
Tuhan kan balas.
Jangan mendendam.
Rasa itu telah mati suri dan membekas dengan luka yang sangat.
Dimaafkan?
Tuhanku saja Maha Pemaaf.
Kamu bagaimana?
Diam.
Berwudlu lah... ini akan mengundang aura kerudung hijau.
By. Nok
Kamu siapa, ada keinginan menjadi miliknya
Sebatas ingin tapi menggebu
Begitu kan?!
Kenapa kamu, kamu tidak kenapa-kenapa
Saya dimana, ruang abstrak tanpa esensi percaya
Hendak kemana, apa pedulimu?!
Iya, disana.
Lurus menunjuk, dia, bukan?!
Ia bukan milik saya
Saya pun bukan miliknya
Hanya prosesi ini yang menjadikan seperti dia adalah apa-apa saya.
Jadi dia siapa?!
Dia tetap bukan siapa-siapa.
Kenapa dipertahankan.
Terjawab, alur Tuhan yang sampai saat ini belum dimengerti.
Hatimu terlalu keras, mungkin!!!
Apa karena ada dia?
Dia mengingkannya,
Saling menginginkan.
Dipersilahkan?
Tidak!!!
Mengapa?
Bicaralah dengan telapak tak berucap,
Tak akan ada jawab.
Ini akan lebih menyiksa.
Inginmu?
Keinginan dari sisi jiwa yang hitam
Melumat berjuta pesona
Mengeruknya dan membunuhnya dalam lubang yang dalam.
Kejam..
Iya.
Episode merekapun kejam.
Berbalas.
Tuhan kan balas.
Jangan mendendam.
Rasa itu telah mati suri dan membekas dengan luka yang sangat.
Dimaafkan?
Tuhanku saja Maha Pemaaf.
Kamu bagaimana?
Diam.
Berwudlu lah... ini akan mengundang aura kerudung hijau.
By. Nok
Langganan:
Komentar (Atom)