Malam itu, seperti biasa kau menungguku. Menunggu sambil ditemani butiran hujan yang kian tak ujung henti. Sementara aku tengah berpacu dengan waktu dan merampungkan ujianku. Ah, masih hujan... Hujan, apakah engkau masih ingin kami melewati sisa senja menyambut malam?
Sebenarnya seperti biasa kita bertukar cerita, canda yang tiada habis akan topik untuk dibahas. Dalam hati, bagaimana ini bisa mengalir sedemikan cair. Aksen kita yang berbeda, terdengar lucu untuk diucap. Dan mamang sekoteng, mamang baso tahu, mamang baso malang, mereka sepertinya asik kali mendengar kita berhaha-hihi. Tak lama, ternyata mereka pun menimpali celotehan kami. Rintik hujan berangsur pergi. Saatnya kita pergi dari tempat ini dan beradu angin. Tuhan, ini indah.
Selayang padang, kuputar sekeliling berlindung di belakang sebidang bahu yang bidang. Hemm, rasanya memang berbeda. Kau bukan dia. Kau adalah kau. Dia tetap dia. Batasan aku bersama kau dan dia, terjaga.
Pikirku terhenti, pada sosok yang kau puja. Benarkah ia? Aku tersenyum dan bahagia, selamat reflek kutanggapi. Akhirnya kau temukan ia. Itu artinya selamat tinggal kawan. Jatah berbagi waktu dan kebersamaan denganmu. Secara sadar ini harus diakhiri. Aku mundur perlahan, dengan caraku, dengan lakuku, dengan kekhas-an yang kumiliki.
Bisa jadi ini akan terasa asing, ketika rentang waktu disitu hanya aku. Di saat hari luang, kursi-kursi itu seperti berbicara. Kemana penyalamku, lama tak terlihat? Dia tidak akan ada, lagi. Salami saja aku dan aku akan salamimu. Risauku tak beralas. Aku diam dan menelan.
Kutatap langit dan berujar lirih...
Kau telah bahagia, dan aku bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar